TIPOLOGI
Masjid Agung
DKI JAKARTA » KOTA ADM. JAKARTA PUSAT » MENTENG
ID Masjid : 01.2.11.03.06.000001
Luas Tanah : 9.920 m2
Status Tanah : SHM
Tahun Berdiri : 1970
Daya Tampung Jamaah : 4.430
No Telp/Faks : 021-31934261 / 021-39899710
Fasilitas : Gudang, Aula Serba Guna, Koperasi, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Penyejuk Udara/AC, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah
Kegiatan : Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu
Jumlah Pengurus : 47
MASJID SUNDA KELAPA

Masjid Sunda Kelapa 

Masjid ini dibangun atas prakarsa Ir. Gustaf Abbas pada tahun 1960-an, desain interior dan eksterior masjid ini dipenuhi simbol-simbol fleksibel, tidak kaku dengan simbol Timur Tengah yang kerap menjadi harga mati untuk arsitektur masjid. Abbas adalah arsitek lulusan Insitut Teknologi Bandung ITB, yang mematahkan arsitektur masjid di tanah air pada umumnya. Karyanya juga dapat dirasakan pada Masjid Salman di Jalan Ganesha, Bandung.

Tak seperti masjid kebanyakan, Masjid Agung Sunda Kelapa tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid. Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam di masa lalu.

Selain itu, bentuk perahu adalah makna simbolik kepasrahan seorang muslim. Bagaikan orang duduk bersila dengan tangan menengadah, berdoa mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya.

Abbas, tak sendirian. Ia didukung para jenderal di Menteng yang menyumbangkan dana awal pembangunannya. Para jenderal merasa harus meluruskan kekeliruan sejarah atas G30S/PKI, dengan membangun sebuah masjid yang nyaman untuk pelaksanaan ibadah. Karena pembangunan tak kunjung selesai, Pemda DKI Jakarta semasa Ali Sadikin (almarhum), merasa harus turun tangan untuk merampungkan pembangunannya sampai berdiri kokoh pada tahun 1970.