Pendahuluan
Masjid Baiturrohcman terletak di Dusun Kaliduren Desa Durensawit Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo. Masjid ini berada ditengah-tengah dusun dan memiliki nilai sejarah ataupun spiritual yang tinggi bagi masyarakat sekitar. Berdiri sejak tahun 1933 masjid Baiturochman telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat di Kaliduren hingga saat ini. Sedangkan, pemberian nama Baiturrohcman dimulai dari pemberian tokoh KH. Abdurachman yang merupkan tokoh pemuka agama pada masa itu.
Sejarah Awal
Latar Belakang Pendirian
Masjid Baiturrohcman didirikan pada tahun 1933 atas inisiatif dari masyarakat Kaliduren dengan didorong dari tokoh pemuka dusun yaitu Mbah H. Sholeh, Mbah KH. Abdurachman, Mbah H. Murtadzo, Mbah Barjaki, Mbah Tahyar, Mbah Dul Hadi, Mbah Kazan, Mbah Abu Anwar, Mbah Daris, Mbah Murtawi dan Mbah Sahid. Sumber sejarah berdirinya masjid ini didapatkan dari keterangan tokoh sesepuh dari Mbah Solihin yang menyebutkan pendirian masjid ini penuh dengan segala perjuangan dan semangat gotong-royong yang tinggi dari masyarakat Kaliduren.
Awal dari pembangunan masjid awalnya hanya sebuah langgar atau mushola yang dulunya teletak di rumahnya Mbah Komarudin disebelah selatan Dusun Kaliduren. Mushola dibangun diatas lahan Mbah Roji dan bangunan masih berbentuk sederhana menggunakan atap alang-alang dan duk tembok berupa bambu yang dianyam dikenal dengan gedek. Hal ini memberikan keprihatinan kepada para tokoh disusun Kaliduren untuk membuat tempat ibadah yang lebih layak. Penentuan lokasi masjid pada awalnya ingin dibangun dekat dengan lokasi sumber mata air dikenal dengan daerah Kalibelik. Akan tetapi, ada hal yang menarik dari proses pemerataan lahan yang mengalami berbagai kendala pada waktu itu sekitar tahun 1930’an. Kendala tersebut berupa orang-orang yang ikut dalam proses pemerataan mengalami sakit yang tiba-tiba. Apalagi, pemerataan yang sudah dilakukan setiap pagi atau siang hari ketika esok harinya mengalami longsor.
Kendala yang dihadapi ketika proses pembangunan masjid yang awalnya dilokasi Kalibelik akhirnya Mbah KH. Abdurachman memutuskan untuk menggunkan lahan yang diberikan dari Mbah H. Sholeh yang menjadi cikal bakal berdirinya masjid Baiturrochman. Proses pembangunan awal masih ditahun masa Kolonialisme Hindi-Belanda dan tentunya tidak mudah untuk membangun masjid tersebut. Kayu yang dibutuhkan untuk pembuatan masjid harus didapatkan melalui strategi dan trik agar mendapatkan kayu dari lahan yang diawasi oleh bangsa Belanda. Pembangunan masjid Baiturrohcman telah membawa dampak suka-cita bagi masyarakat desa Kaliduren. Bahkan, ada tokoh dari desa lain atau berdasarkan penuturan Mbah Solihin sosok tersebut dikenal dengan Mbah Bau dari dusun Kwarasan yang masih adik dari mbah H. Sholeh memberikan seekor sapi sebagai bentuk rasa syukur telah berdirinya masjid tersebut.
Perkembangan renovasi masjid selanjutnya dilakukan pada tahun 1963 dengan berbagai perbaikan pada atap, dinding dan lantai. Seiring perkembangan zaman tidak terlepas dari peran berbagai tokoh pemuka agama, pemuka wilayah dan masyarakat di Dusun Kaliduren. Masa khidmat dari Mbah H. Sholeh diteruskan oleh Mbah KH. Abdurachman lalu diteruskan oleh Mbah KH. Abu Jakfar dan diteruskan pada anak-anaknya sekarang sebgai imam masjid Baiturrochman. Sebenarnya Mbah KH. Abdurrachman merupakan tokoh pendatang dari Desa Dempel Kecamatan Selomerto dengan nama aslinya dikenal dengan Mbah Kamjani. Bersumber dari keterangan Mbah H. Tarmudji yang merupakan mantan Kepala Desa Durensawit masa kepemimpinan dari periode 1990 - 1998 dan 1998-2006 menuturkan bahawa Mbah H. Sholeh menjodohkan anaknya yang bernama Mbah Manis dijodohkan dengan Mbah Kamjani. Nama Mbah Kamjani akhirnya lebih dikenal sebagai nama KH. Abdurachman.
Dari berbagai keterangan sumber tokoh agam dan sesepuh masyarkat dari dusun Kaliduren dalam perkembangan masjid telah mengalami berbagi dinamika yang tidak mudah dalam membangun sebuah masjid. Pada awalnya masjid masih berupa Langgar atau Mushola yang menggunakan material bangunan masih sangat sederhana berupa bambu dan alang-alang. Dari awal perkembangan berdiri masjid hanya bermula beberapa puluhan Kartu Keluarga (KK) saja. Padahal kebutuhan akan tempat ibadah representatif dari masa ke masa menjadi program prioritas untuk diperlukannya sebuah renovasi. Hal ini berkaitan pentingnya membangun sebuah masjid yang tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan pendidikan bagi masyarakat. Bahkan, masyarakat masa kini harusnya lebih bersyukur karena bangunan masjid sudah jauh lebih baik dan bagus dari masa awal pembangunan hingga sekarang. Kalau dilihat dari antusiasme secara keseluruhan masyarakat dari anak-anak, pemuda-pemudi dan orangtua nyatanya pada era Abad ke 20 untuk kegiatan keagamaan masih sangat jauh. Misalnya ketika dulu kegiatan pendidikan mengaji selalu rutin dilakukan setalah Sholat Magrib sampai Isya dilanjutkan Setalah Subuh. Hal ini menjadi refleksi bersama dan utamya bagi takmir masjid agar selalu berupaya menjadi Masjid tidak hanya tempat Ibadah akan tetapi menjadi pusat peradaban.
Tokoh dan Kontribusi
Inisiatif pendirian masjid Baiturrochman dirangkum dari berbagai para narasumber berawal dari dukungan beberapa tokoh penting di masyarakat Kaliduren baik itu tokoh agama dan tokoh masyarakat, seperti : Mbah H. Sholeh, Mbah KH. Abdurachman, Mbah Roji, Mbah H. Murtadzo, Mbah Barjaki, Mbah Tahyar, Mbah Dul Hadi, Mbah Kazan, Mbah Abu Anwar, Mbah Daris, Mbah Murtawi dan Mbah Sahid yang memberikan kontribusi besar baik dalam bentuk materi maupun tenaga. Mereka bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita memiliki sebuah masjid yang representatif dan nyaman bagi jamaah. Sejarah perkembangan masjid di Kaliduren telah memberikan dampak yang besar bagi kemajuan Islam di wilayah setempat. Hal tersebut juga tidak terlepas dari peran masyarakat Kaliduren yang sangat antusias dalam segala aktivitas keagamaan. Sosok Mbah Roji menjadi cikal bakal pertama membuat sebuah Langgar yang dilanjutkan dengan dorongan Mbah H. Sholeh dan Mbah KH. Abdurachman telah membawa dampak yang luar biasa dalam perkembangan masjid atau keagaman Islam di Kaliduren. Misal berdasarkan penuturan dari bapak Kyai Mubasir yang merupakan tokoh agama saat ini ditambah beliau cucu dari mbah KH. Abdurachman secara silsilah memiliki anak pertama yaitu Mbah Abu Jakfar yang notabenya ayah dari beliau menyampaikan kegiatan keagamaan tahun 1960’an peran masjid sangat penting untuk berkumpulnya anak-anak yang ingin mengaji dan berjanji. Khususnya kegiatan berjanji untuk antusiasme ke masyarakat secara keseluruhan sudah berkurang dengan kondisi saat ini.
Jejak sejarah yang masih terekam dari keterangan sumber misal dari tokoh masyarakat sesepuh saat ini yaitu Mbah Solihin menuturkan peran Mbah Roji, Mbah H. Sholeh dan Mbah KH. Abdurachman. Sosok Mbah KH. Abdurachman awalnya memiliki nama Mbah Kamjani yang berasal dari Dusun Dempel Desa Brujugan Kecamatan Selomerto. Kehadiran Mbah Kamjani atau Mbah KH. Abdurachman tidak terlepas dari peran Mbah H. Sholeh meminta bantuan kepada beliau untuk mengajarkan agama Islam di Kaliduren. Terlebih lagi
Peran dari beliau sangat besar setelah ada pernikahan dengan putri Mbah H. Sholeh yaitu Mbah Manis. Pernikahan tersebut berdampak sangat besar dalam perkembangan ajaran Islam yang diajarkan oleh Mbah KH. Abdurcahman dan menjadi tokoh pemuka agama di Kaliduren. Pemberian nama masjid “Baiturrochman” juga berdasarkan atas inisiatif dari Mbah Kh. Abdurrachman sekitar tahun 1955 oleh beliau yang memiliki arti Rumah yang dirahmati atau diberkahi oleh Allah SWT.
Perencanaan dan Desain
Perencanaan Masjid Baiturrohcman dimulai dengan serangkaian diskusi dan rapat yang melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh pemuka agama, pemuka desa dan masyarakat setempat. Berdasarkan penuturan dari Mbah Solihin menyampaikan pembangunan titik lokasi masjid berbeda dengan saat ini. Pada awal pembangunan berencana di bangun didejat dengan sumber mata air yaitu dikenal dengan Kalibelik. Karena adanya suatu kendala pembangunan masjid dipindahkan ke tengah-tengah wilayah dusun yang masih berdiri hingga saat ini atas tanak wakaf dari Mbah H. Sholeh dilanjutkan dengan peran Mbah KH. Abdurachman. Pembangunan awal yang merancang desain yaitu Mbah Dul Hadi yang merupakan ayah dari Mbah Dul Majid.
Pendanaan
Pendanaan untuk pembangunan masjid ini berasal dari berbagai sumber. Masyarakat setempat berkontribusi melalui sumbangan dana, bahan bangunan, dan tenaga kerja. Donatur utama berasal dari masyarakat Kaliduren dengan menggunakan sistem iuran dengan semangat gotong-royong.
Pelaksanaan Pembangunan
Pembangunan Masjid Baiturrohcman dimulai pada tahun 1933 dan beberpa kali mengalami renovasi. Proses pembangunan melibatkan banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitar, yang bekerja secara gotong-royong. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti tanah yang sudah diratakan akhirnya longsor kembali , para pekerja yang megalami sakit secara tiba-tiba dan keterbatasan bahan bangunan, semangat kebersamaan dan kerja keras warga berhasil mengatasi semua hambatan tersebut.
Kegiatan dan Perkembangan
Fungsi dan Kegiatan
Sejak berdirinya, Masjid Baiturrohcman tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Kegiatan rutin yang dilakukan di masjid ini meliputi:
• Shalat Lima Waktu dan Shalat Jumat: Masjid selalu ramai oleh jamaah yang melaksanakan shalat lima waktu dan shalat Jumat.
• Pengajian dan Kajian Islam: Setiap minggu diadakan pengajian rutin dan kajian Islam yang diikuti oleh berbagai kalangan, dari anak-anak hingga dewasa.
• Kegiatan Ramadhan: Selama bulan Ramadhan, masjid menyelenggarakan buka puasa bersama, tarawih
• Kegiatan Selapanan
• Kegiatan Periangatan Maulid Nabi dan Rajaban
Perkembangan dan Renovasi
Untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang terus bertambah, Masjid Baiturrohcman telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1933.
Pengaruh dan Makna
Pengaruh Terhadap Masyarakat
Masjid Baiturrohcman memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat sekitar. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat pendidikan dan sosial.
Makna Historis dan Kultural
Masjid Baiturrohcman memiliki makna historis dan kultural yang mendalam bagi masyarakat setempat. Masjid ini bukan hanya simbol keagamaan, tetapi juga simbol persatuan dan kebersamaan. Setiap sudut masjid menyimpan cerita tentang perjuangan dan kebersamaan warga dalam membangun dan memelihara tempat suci ini. Masjid ini juga sering menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam pekembangan sejarah dari masa Kolonilah Hindia Belanda selanjutnya masa Jepang dan Masa Kemerdekaan. Tekad dan semangat yang besar terhadap pengembangan ajran Islam dari tokoh-tokoh pendiri harus diwariskan ke generasi selanjutnya. Jadikanlah masjid sebagai pusat peradaban umat muslim dengan suasana antusiasme yang besar dari berbagai kelangan terkait kegiatan keagamaan dan social.
Pesan dan Harapan
Para pengurus dan masyarakat berharap Masjid Baiturrohcman dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarkat. Rencana-rencana ke depan termasuk pengembangan dalam manajemen masjid yang lebih baik lagi diharapkan dapat semakin memperkuat peran masjid ini dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Harapannya, masjid Baiturrochman ini dapat terus menjadi tempat yang nyaman dan penuh berkah bagi jamaah, serta pusat kegiatan yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat khususnya masyarakat Kaliduren.
Penutup
Dengan segala keistimewaannya, Masjid Baiturrohcman menjadi bukti nyata dari komitmen dan dedikasi masyarakat Dusun Kaliduren dalam menjaga dan mengembangkan keagamaan dan tradisi kultural. Masjid ini akan terus berdiri kokoh sebagai tempat suci dan pusat kegiatan bagi generasi saat ini hingga yang akan datang.