Masjid Jami Indrapuri pada mulanya merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12M di kerajaan Indrapuri. Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Aceh darussalam di abad ke 15M. Sultan pertama Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah dinobatkan sebagai Sultan pada hari Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Pengaruh Kesultanan Aceh menyebar di pulau Sumatera hingga ke wilayah semenanjung Malaya. Manakala Islam kemudian masuk ke wilayah Indrapuri dan kemudian mengubah peradaban disana ke peradaban Islam, fungsi candi Indrapuri pun kemudian berubah menjadi sebuah masjid. Konon perubahan itu terjadi semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kesultanan Aceh Darussalam tahun 1607M hingga 1636M. Sultan Iskandar Muda juga lah yang kemudian membangun masjid Indrapuri menggantikan Candi di lokasi tersebut. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Aceh, Dahlia, bahwa masjid berkonstruksi kayu ini didirikan di atas reruntuhan bangunan benteng yang diperkirakan bekas peninggalan Hindu yang pernah dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan di masa pendudukan Portugis dan Belanda.
Setelah Islam masuk dan berkembang pesat di Aceh, benteng yang semua tempat peribadatan Hindu, dindingnya dihancurkan dan digantikan dengan masjid. Begitu juga dengan ornamen asli penghias bangunan dalam, ditutup plester mengingat ajaran Islam melarang adanya penggambaran makhluk bernyawa. Hal senada tentang sejarah Masjid ini juga disampaikan oelh Rektor UIN Lampung, Prof Dr Musa Said dalam ceramah tarawihnya di masjid ini di bulan Ramadhan (agustus) 2009 yang lalu. Kenyataan tersebut membantah pendapat yang mengatakan bahwa masjid Jami’ Indrapuri lebih tua dari Masjid Agung Demak, mengingat bahwa Sultan pertama Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah baru dinobatkan sebagai Sultan tahun 1507. Kemudian Sultan Iskandar Muda sendiri berkuasa di Kesultanan Aceh tahun tahun 1607M hingga 1636M. Jauh lebih muda dari usia Masjid Agung Demak yang berdiri tahun 1477.
Lain halnya bila ternyata bahwa masjid Jami’ Indrapuri ini dibangun di masa kekuasaan Samudera Pasai (1267-1521) yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Indonesia. Sultan Muhammad Daud Syah Memang agak sulit menentukan tahun berdirinya Masjid Indrapuri ini dengan pasti, karena ketiadaan catatan tahun pendirian masjid yang dijumpai di lokasi tersebut dalam bentuk prasasti ataupun plakat pendirian sebagaimana kita jumpai di beberapa masjid masjid tua tanah air. Peristiwa penting terakhir yang berlangsung di Masjid Jami’ Indrapuri adalah pelantikan Muhammad Daud Syah sebagai Sultan Aceh ke 35 pada tahun 1874. pelantikan itu juga menjadikan Indrapuri sebagai ibukota Kesultanan Aceh, Namun hal itu tak berlangsung lama karena Sultan Muhammad Daud Syah menjadi Sultan Aceh terahir setelah beliau ditangkap oleh Belanda tanggal 10 Januari 1903 kemudian diasingkan ke Ambon lalu dipindahkan ke Batavia sampai wafatnya pada tanggal 6 Februari 1939. Sekilas Kerajaan Indrapuri Menurut penuturan Imam besar Masjid Jami' Indrapuri, Tengku Imam Syafi (65thn) kepada waspada medan, Indrapuri adalah kerajaan yang didirikan oleh ummat Hindu di Aceh. Kerajaan ini berawal dari adik perempuan Putra Harsha dari India yang suaminya terbunuh dalam peperangan yang dilancarkan oleh bangsa Huna pada tahun 604 M lalu melarikan diri dari kerajaannya ke Aceh. Sesampainya di Aceh, adik perempuan Putra Harsha ini mendirikan kerajaan yang diduga dan besar kemungkinan adalah Indrapuri sekarang. Hal ini didasari fakta bahwa di dekat Indrapuri terdapat perkampungan orang Hindu, yaitu di Kampung Tanoh Abei. Di sini juga banyak dijumpai kuburan orang Hindu. Selain mendirikan kerajaan, ummat Hindu kala itu juga mendirikan Candi diberi nama Indrapuri, yang artinya Kuta Ratu. Selain itu, ia juga mendirikan Kerajaan Indrapatra di Ladong, disekitar Pelabuhan Malahayati. Bekas Candi masih terlihat pada tapak sekeliling Masjid. Menurut Prof. H. Ali Hasjmy (alm), diperkirakan keseluruhan tapak/bekas Candi tersebut hampir sama besarnya dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Profesor Ali Hasjmy menambahkan, bila bangunan ini digali diperkirakan patung-patung Hindu banyak terdapat di dalamnya. Bahkan menurut Yunus Djamil, dalam bukunya Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh menyebutkan, Indrapuri merupakan bagian Kerajaan Hindu Indrapurwa, termasuk Indrapatra dan Indrapurwa.
Masjid Tuha Indrapuri, yang terletak di Kabupaten Aceh Besar, adalah salah satu masjid tertua dan bersejarah di Aceh. Keunikan masjid ini terletak pada arsitekturnya yang menyerupai candi Hindu, menunjukkan warisan budaya dan sejarah yang kaya dari wilayah ini.
Sejarah Awal
Masjid ini awalnya merupakan sebuah candi Hindu yang dibangun pada masa kerajaan Hindu di Aceh, sekitar abad ke-12 atau bahkan sebelumnya. Saat itu, daerah Indrapuri merupakan pusat kerajaan Hindu yang kuat, dan candi ini berfungsi sebagai tempat ibadah utama.
Konversi Menjadi Masjid
Pada abad ke-17, setelah Islam menjadi agama dominan di Aceh, candi tersebut diubah menjadi masjid oleh Sultan Iskandar Muda, salah satu raja besar Kesultanan Aceh. Proses ini mencerminkan transisi budaya dan agama di wilayah tersebut, dari Hindu ke Islam, namun tetap mempertahankan beberapa elemen arsitektur asli yang mencerminkan identitas sejarahnya.
Renovasi dan Perubahan
Seiring berjalannya waktu, Masjid Tuha Indrapuri mengalami beberapa renovasi untuk menjaga struktur bangunannya. Meskipun demikian, sebagian besar dari desain aslinya tetap dipertahankan, termasuk atap berbentuk limas dan pondasi batu yang kokoh. Masjid ini terbuat dari kayu dan berdiri di atas panggung setinggi sekitar 3 meter, yang merupakan ciri khas arsitektur tradisional Aceh.
Masjid Saat Ini
Hingga sekarang, Masjid Tuha Indrapuri masih berfungsi sebagai tempat ibadah dan menjadi situs bersejarah yang dilindungi. Masjid ini tidak hanya menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah Aceh, tetapi juga menjadi simbol toleransi dan perpaduan budaya yang unik di wilayah tersebut. Banyak wisatawan dan peneliti sejarah yang mengunjungi masjid ini untuk mempelajari lebih dalam tentang sejarah Aceh dan melihat keindahan arsitektur yang khas.