Profil Masjid
Fasilitas Umum
Sarana Ibadah
Tempat Wudhu
Kamar Mandi/WC
Sound System dan Multimedia
Parkir
Kegiatan
Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu
Menyelenggarakan Sholat Jumat
Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam
Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar
Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)
Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf
Fasilitas Ramah Anak
Fasilitas Disabilitas
Fasilitas Perpustakaan
Sejarah Masjid
Kecamatan Sambung Makmur sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Pengaron, dan lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Gunung Sambung. Pada sekitar tahun 1950an, datanglah seorang kiyai dari Madura bernama K.H.Thohir Zaki, beliau merupakan seorang ulama dan tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Pada saat itu beliau merencanakan pembangunan masjid-masjid serta menentukan wilayah-wilayah mana saja yang akan dibangun masjid. Selanjutnya dibangunlah sebuah Masjid di Madurejo 1. Masyarakat Gunung sambung (Madurejo 2) ikut melaksanakan shalat Jum’at di Masjid Madurejo 1 untuk mencukupi terpenuhinya syarat minimal jamaah Sholat Jumat, karena penduduk pada saat itu masih sedikit jumlahnya, meskipun jaraknya lumayan jauh.
Dalam perkembangan selanjutnya, dengan bertambahnya jumlah penduduk maka dinilai perlu untuk mendirikan sebuah masjid di Gunung Sambung (Madurejo 2). K.H.Thohir Zaki bersama-sama dengan masyarakat Gunung Sambung melaksanakan pembangunan Masjid Nurul Huda sekitar Tahun 1959 M. Masjid Nurul Huda pada awalnya adalah bangunan yang sederhana dengan material kayu berukuran sekitar 12 x 12 m.
Pada tahun 1993, masjid ini mengalami renovasi, dimana dalam renovasi masjid ini mengalami Pengembangan fisik yang semula berukuran 12 x 12 m menjadi 14 x 14 m. Renovasi dan pengembangan fisik masjid ini dilakukan oleh masyarakat Gunung Sambung yang sebagian besar dananya diberikan oleh seorang tokoh masyarakat yang bernama H.Marsuki.
Pada tahun 2002, dilakukan renovasi untuk kali keduanya terhadap bangunan masjid menjadi 20 x 20 meter. Dimana dana atau biayanya renovasi ini didapat dari swadaya masyarakat yang sebagian besar adalah sumbangan dari tokoh masyarakat yang bernama H.Mansyur.
Kini setelah mengalami renovasi, Masjid Besar Nurul Huda menjadi Masjid yang megah. Seni Kaligrafi yang indah dapat dilihat pada bagian dalam kubah masjid serta seni pahat kaligrafi terlihat pada bagian pintu-pintu dan jendela masjid, ditambah dengan menara yang menjulang tinggi menambah keindahan masjid.