SEJARAH BERDIRINYA MASJID BABURREZQI
Masjid Baburrezqi merupakan salah satu simbol kebersamaan dan semangat keagamaan
masyarakat di lingkungan sekitarnya. Masjid ini berdiri atas dasar keinginan kuat warga untuk
memiliki tempat ibadah yang layak dan menjadi pusat kegiatan keagamaan serta sosial
masyarakat. Sejarah berdirinya Masjid Baburrezqi tidak lepas dari perjuangan dan ketulusan
para tokoh masyarakat yang berperan besar sejak awal pembangunannya.
Awal mula pendirian masjid ini dimulai dari peletakan batu pertama, yang diprakarsai
oleh Bapak Miskan Suaib, dengan dukungan Sekretaris M. Amin Talib serta H. Nurdin sebagai
tokoh masyarakat yang berpengaruh pada masa itu. Ketiga tokoh ini memiliki visi yang sama,
yaitu membangun sebuah tempat ibadah permanen yang dapat digunakan oleh masyarakat
untuk melaksanakan shalat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya.
Peletakan batu pertama tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan
pembangunan Masjid Baburrezqi. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat gotong
royong masyarakat tetap menyala. Warga saling membantu, baik dalam bentuk tenaga, bahan
bangunan, maupun sumbangan dana. Dari sinilah semangat kebersamaan yang menjadi ciri
khas Masjid Baburrezqi mulai tumbuh dan terpelihara hingga sekarang.
Pembangunan masjid ini tidak terlepas dari dukungan organisasi TAD (Tekad Andika
Darma) yang pada masa itu dipimpin oleh Letkol Darmin. Beliau turut memberikan perhatian
dan bantuan dalam mempercepat proses pembangunan. Dukungan dari berbagai pihak,
termasuk aparat dan tokoh masyarakat, menjadi bukti bahwa Masjid Baburrezqi lahir dari
sinergi antara pemerintah dan rakyat.
Dalam pelaksanaannya, pembangunan masjid juga dikoordinasikan oleh Manajer Pak
Danial, yang bertugas mengatur jalannya pembangunan dan memastikan kebutuhan material
serta tenaga kerja terpenuhi. Peran beliau sangat penting dalam menjaga agar proses
pembangunan berjalan sesuai rencana dan selesai tepat waktu.
Setelah melalui proses panjang dan penuh perjuangan, akhirnya Masjid Baburrezqi resmi
beroperasi pada tahun 1985. Tahun ini menjadi momen bersejarah bagi masyarakat, karena
mereka kini memiliki tempat ibadah yang representatif dan menjadi pusat kegiatan keagamaan.
Peresmian tersebut juga menandai awal dari pengelolaan masjid secara resmi oleh pihak
transmigrasi.
Pada awal masa operasionalnya, pengurus pertama masjid diambil alih oleh pihak
transmigrasi tahun 1985. Mereka bertanggung jawab atas pengelolaan kegiatan ibadah dan
perawatan masjid. Sistem kepengurusan pada masa itu masih sederhana, namun tetap
mengutamakan musyawarah dan gotong royong antarwarga.
Dalam hal kepemimpinan, masyarakat menerapkan sistem adat yang dipilih secara
aklamasi. Artinya, pengurus dan tokoh masjid dipilih berdasarkan kesepakatan bersama, tanpa
adanya pertentangan atau perebutan jabatan. Tradisi musyawarah ini menunjukkan tingginya
nilai persatuan dan rasa saling percaya di antara warga.
Seiring berjalannya waktu, pengelolaan Masjid Baburrezqi semakin tertata dengan baik.
Pada tahun 2014, dibentuklah struktur kelembagaan pengurus masjid yang lebih formal dan terorganisir. Sejak saat itu hingga sekarang, kepengurusan berjalan dengan sistematis dan terus
berupaya memajukan fungsi masjid sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan sosial masyarakat.
Tidak hanya itu, peran generasi muda juga mendapat perhatian khusus dalam kegiatan
keagamaan. Untuk membina semangat dan kreativitas para pemuda, dibentuklah Remaja
Masjid Baburrezqi yang dipimpin oleh Bapak Lisukin, S.Sos. Di bawah kepemimpinan beliau,
remaja masjid aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti pengajian, lomba keagamaan,
dan bakti sosial, yang semakin memperkuat posisi Masjid Baburrezqi sebagai pusat pembinaan
iman dan ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekitarnya.