MASJID AGUNG SEMARANG, adalah Masjid tertua di kota Semarang - ibukota Jawa Tengah - memiliki sejarah panjang dan terkait erat dengan sejarah berdirinya kota Semarang. Masjid Agung Semarang adalah masjid cagar budaya yang harus dilindungi dan dipertahankan keasliannya, Masjid ini telah menjadi kebanggaan warga Semarang karena bangunannya yang khas, mencerminkan jatidiri masyarakat pesisir yang lugas, sederhana, tetapi tetapi bersahaja.
Seperti halnya Masjid-masjid kuno di Pulau Jawa, Masjid Agung Semarang berada di pusat kota, serta tak berjarak jauh dari pusat pemerintahan (”Kanjengan”) dan pusat perdagangan (”Pasar Johar”), merupakan ciri khas dari tata ruang sejak jaman Kerajaan Hindu Majapahit di abad ke-14, diteruskan oleh Kerajaan Islam Demak abad ke-15, Kerajaan Pajang, hingga Kerajaan Mataram abad ke-17. Konsep pusat kota adalah: pusat pemerintahan, biasanya Kerajaan atau Kraton tempat tinggal raja dan keluarganya pada bagian depannya terdapat tanah lapang yang disebut aloon-aloon, berdekatan dengan fasilitas ibadah (pada kerajaan Hindu berupa Pura dan pada jaman Kerajaan Islam berupa masjid) dan pasar.
Pengaruh Walisongo pada masa perkembangan Islam di tanah Jawa yang begitu kuat, memengaruhi ciri arsitektur Masjid Agung Semarang. Ini semua bisa dilihat dari atap Masjid yang berbentuk tajug tumpang (tingkat) tiga. Arsitektur ini merupakan cirikhas arsitektur Jawa yang bergaya Majapahit, mirip dengan Masjid Agung Demak yang dibangun pada masa Kesultanan Demak. Tajug tumpang tiga merupakan representasi dari makna filosofi tingkatan manusia: Islam, Iman, dan Ikhsan.
Bagian tajug paling bawah Masjid menaungi ruangan ibadah. Tajug kedua lebih kecil, sedangkan tajug tertinggi berbentuk limasan yang ujungnya diberi hiasan mustaka berlafazkan “Allah”, mengandung makna tingkatan tertinggi yang ingin dicapai manusia, yaitu: “ma’rifatullah” atau mengenal Allah. Semua tajug ditopang dengan balok-balok kayu jati berstruktur modern.
Berbeda dengan Masjid Demak yang bangunan utamanya disangga empat soko guru, maka atap Masjid Agung Semarang ditopang 36 soko (pilar) yang kokoh. Keunikan atap Masjid Agung Semarang dibungkus dengan bahan seng bergelombang, pada waktu itu seng merupakan bahan yang langka dan secara khusus didatangkan dari Belanda. Atap seng sampai sekarang masih dipertahankan dan menjadi salah satu ikon Masjid.
Di ruangan Masjid, terdapat mihrab runcing dengan langit-langit dari beton, terdapat mimbar imam terbuat dari kayu jati dilengkapi ornamen ukir yang indah. Konon jaman dahulu mimbar ini dibuat sepasang, salah satunya untuk tempat sholat Bupati. Sementara pintunya berbentuk rangkaian daun waru, melambangkan arsitektur khas Persia atau Arab. Kompleks Masjid dibatasi pagar tembok dan pagar besi. Entrance utama berupa gerbang masuk gapura (tepatnya di Jalan Alun-alun Barat) dan pada samping (tepatnya di Jalan Kauman) terdapat pintu gapuro yang lebih kecil dengan ornamen sejenis. Pintu gapuro ini kemudian menjadi model pembuatan gapuro-gapuro kampung di sekitar Masjid.
Masjid Agung Semarang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam di kota Semarang, Bahkan Masjid ini juga dianggap sebagai simbol perbauran masyarakat antar-etnis, Sebab, sejak dulu, sekitar Alun-alun dekat Masjid bermukim warga dari berbagai etnis. Di sebelah utara yang berbatasan dengan Kali Semarang dan pelabuhan, merupakan perkampungan warga etnis Arab dan Koja. Di sebelah barat daya merupakan kawasan Kota Lama bermukim etnis Belanda, sebelah barat bermukim etnis Melayu dan sebelah selatan bermukim etnis Pribumi (Jawa) yang membaur ke timur bersama etis China. Hingga kini, di sekitar Masjid masih terdapat kawasan Pecinan Semarang.
Dengan fakta itu, Masjid Agung Semarang sejak jaman dahulu sudah melaksanakan dakwah Islam yang teduh dan mengayomi semua etnis. Dakwah Islam “rahmatan lil alamin” (pembawa rahmat kepada seluruh alam) dengan menganut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah, yang diimplementasikan dalam bidang mu’amalah secara membumi sesuai nilai-nilai dan norma-norma kemasyarakatan setempat. Atau sekarang dikenal dengan istilah “Islam Nusantara”.
Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, Masjid Agung Semarang juga menyimpan cerita yang sangat heroik. Masjid ini menjadi saksi sejarah, satu-satunya masjid di Indonesia yang mengumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia secara terbuka hanya beberapa saat setelah diproklamirkan. Seperti diketahui Proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB., atau bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan 1364 Hijriah.
Lebih kurang satu jam setelahnya, yaitu saat sebelum sholat Jum’at, Proklamasi kemerdekaan RI diumumkan oleh seorang jama’ah bernama dr. Agus Abdullah secara terbuka di mimbar Masjid Agung Semarang yang seperti biasa direlay secara langsung oleh “Semarang Hoso Kyoku” (sekarang RRI Semarang). Keberanian itu harus dibayar mahal, karena setelahnya dr. Agus dikejar-kejar oleh Tentara Jepang dan melarikan diri di Jakarta hingga beliau meninggal di sana.
Konon karena peristiwa tersebut menjadi salah satu pemicu terjadinya Pertempuran Lima Hari di Semarang pada tanggal 15 s.d. 20 Oktober 2022. Akibatnya Tentara Jepang melakukan razia ke mana-mana, ke rumah-rumah penduduk, termasuk merazia di Hotel Du Pavillon (Dibya Puri), Pasar Johar dan sekitarnya. Banyak dari kalangan warga Kauman sampai mengungsi di luar kota.
Ada sebuah peristiwa, salah seorang pejuang yang tewas tertembak oleh Tentara Jepang, karena suasana yang mencekam dan tidak aman jenazahnya dimakamkan di Aloon-aloon.
Sebagai penghargaan atas peristiwa tersebut, pada tanggal 20 Mei 1953, Presiden RI pertama Ir. H. Soekarno menyempatkan hadir untuk melakukan sholat dan berpidato di Masjid Agung Semarang.